Senin, 23 Agustus 2010

Mencoba Bangkit

Yeahh.....setelah sekian bulan blog ini terbengkelai dan juga karena blog wordpress saya kolap tak bersisa terserang error nggak jelas, akhirnya saya mencoba bangkit dengan menghidupkan blog lama ini.

Berharap masih ada sisa ide tentang kehidupan sekitar dan mengurainya dengan kata-kata sederhana.

Salam hangat bersama Angin Indonesia.............. Lanjut baca ya.......

Kamis, 20 Agustus 2009

Klasifikasi Bencana 2

Dalam tulisan saya Klasifikasi Bencana yang pertama membahas tentang bencana berdasarkan pada faktor penyebabnya. Kali ini saya akan membahas Klasifikasi Bencana berdasarkan urutan/ rangkaian peristiwanya.


Klasifikasi bencana
berdasarkan rangkaian peristiwanya adalah Bencana primer, sekunder, tersier dan kuarter. Dalam peristiwa bencana yang sesungguhnya bisa saja peristiwanya hanya bencana primer saja atau bisa berurutan hingga bencana tersier.

Definisi secara umum dari masing-masing kategori bencana yaitu:

  1. Bencana Primer adalah bencana yang murni disebabkan oleh faktor alam
  2. Bencana Sekunder adalah bencana yang terjadi karena kegagalan manusia dalam usahanya untuk mengendalikan, mengelola dan/ atau merekayasa alam.
  3. Bencana Tersier adalah bencana lanjutan yang diakibatkan oleh bencana sekunder
  4. Bencana Kuarter adalah bencana lanjutan yang diakibatkan oleh bencana tersier
Untuk lebih jelasnya mari kita ikuti contoh rangkaian peristiwa berikut ini.

  • Kota A berada di daerah perbukitan kapur yang kering dan selalu kekurangan air di musim kemarau. Kondisi ini banyak menyengsarakan masyarakat dan menimbulkan kerugian waktu dan biaya. Misalnya mereka harus mencari sumber air yang jauh atau menunggu pasokan air dari kota lain. Ternak banyak yang mati karena tidak tersedia makanan dan air yang cukup. Peristiwa ini sudah bisa dikategorikan sebagai bencana primer.
  • Untuk mengatasi kondisi diatas ada usaha dari pemerintah untuk membangun waduk di daerah hulu sungai yang akan menampung debit air pada musim hujan dan digunakan sebagai cadangan pada musim kemarau. Setelah waduk jadi maka kesejahteraan masyarakat meningkat dan waduk menjadi satu-satunya sarana penunjang kehidupan di musim kemarau. Karena kelalaian petugas atau buruknya upaya operasional dan pemeliharaan bangunan waduk maka pada saat curah hujan sangat tinggi terjadi over topping pada tanggul bendungan sehingga terjadi keruntuhan bendungan. Bencana ini menimbulkan koran jiwa dan harta benda sebanyak 3 kecamatan yang terletak di daerah hilir sungai dan juga menyebabkan putusnya jembatan utama di kota tersebut. Peristiwa ini disebut sebagai bencana sekunder.
  • Kecamatan D dan sekitarnya adalah daerah di lereng bukit yang jauh dari kota A dan akses jalan satu-satunya menuju kota adalah melalui jembatan yang putus akibat keruntuhan bendungan. Pascabencana putusnya jembatan, kecamatan D mengalami kekurangan pasokan makanan, bahan bakar, masyarakat kehilangan akses dan mobilitas menuju kota A, kehilangan mata pencaharian dll. sehingga sebelum dibangunnya jembatan darurat dan jembatan baru masyarakat di kecamatan D banyak yang mengalami musibah kelaparan, terserang penyakit dan kerugian yang lain. Peristiwa ini disebut bencana Tersier.
  • Karena kecamatan D dan sekitarnya belum juga menerima bantuan yang layak, kekurangan pangan dan layanan kesehatan serta kerugian yang lain maka terjadilah kekacauan sosial. Pencurian dan gangguan keamanan meningkat akibat daerah terisolasi. Peristiwa ini disebut bencana Kuarter.
Contoh lain sangat banyak dari rangkaian bencana, seperti gunung api, kegagalan panen, Meninggalnya seorang pemimpin dll.
Dari klasifikasi di atas maka kita menjadi bisa menilai suatu bencana termasuk dalam kategori bencana apa dan mengapa bisa terjadi. Suatu peristiwa yang kelihatannya merupakan bencana alam (primer) bisa jadi merupakan bencana akibat kesalahan manusia (sekunder) atau bencana ikutan lainnya (tersier atau kuarter).

Lanjut baca ya.......

Selasa, 04 Agustus 2009

Klasifikasi Bencana

Berdasarkan penyebab terjadinya maka bencana dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu bencana karena faktor alam dan bencana yang disebabkan oleh ulah manusia. Bencana yang disebabkan oleh faktor alam misalnya gempa bumi, tsunami, gunung meletus. Bencana yang disebabkan oleh faktor alam biasa disebut Bencana Alam.

Sedangkan bencana akibat dari ulah manusia misalnya kegagalan bangunan (tanggul jebol, jembatan/ gedung runtuh dll), teror bom, kerusuhan sosial, perang dll

Namun disamping contoh diatas, ada bencana yang merupakan kombinasi dari faktor alam dan ulah manusia.


Contoh dari bencana akibat faktor alam dan ulah manusia diantaranya adalah:
1. Banjir
Karena faktor alam: banjir terjadi karena tingkat curah hujan yang tinggi di daerah hulu sungai sehingga daya tampung sungai tidak mencukupi dan terjadi luapan di daerah bantaran sungai dan daerah hilir.
Karena ulah manusia: banjir terjadi karena penggundulan hutan sehingga terjadi peningkatan erosi permukaan tanah dan ketika terjadi hujan maka kemampuan tanah dalam menyerap air hujan menjadi berkurang/ hilang. Aliran air permukaan meningkat yang pada akhirnya semuanya mengalir menuju sungai yang kapasitasnya terbatas. Terjadilah banjir. Kasus lain adalah banjir di area permukiman padat penduduk atau perkotaan dimana saluran drainase tidak dibangun dengan baik.

2. Tanah longsor
Karena faktor alam: terjadi pelapukan batuan yang disebabkan oleh perubahan suhu oleh panas matahari dan hujan yang silih berganti sepanjang tahun, juga pelapukan karena aktifitas magma di dalam perut gunung berapi. Pelapukan batuan mengakibatkan lapisan tanah semakin menebal dari waktu ke waktu. Apabila penambahan ketebalan lapisan tanah tersebut terjadi pada lereng maka daya dukung lereng menjadi berkurang sehingga kestabilannya berkurang. Lereng yang kurang stabil apabila terjadi peningkatan kejenuhan air pada saat hujan ditambah dengan pembebanan di atas permukaan lereng maka akan mudah terjadi longsor.
Karena ulah manusia: Lereng atau tebing dapat terjadi longsor oleh kegiatan manusia seperti pengeprasan (cutting), pembangunan perumahan dan jalan, penambangan dll. yang semuanya dapat mengganggu kestabilan lereng.

3. Masih banyak contoh bencana dari kombinasi antara faktor alam dan ulah manusia yang dapat kita temui seperti kekeringan, kelaparan dll.

Dalam bencana kombinasi di atas penyebabnya bisa salah satu faktor misalnya alam saja atau ulah manusia saja tapi yang sering terjadi adalah akibat kedua faktor secara bersama-sama.

Lanjut baca ya.......

Jumat, 03 Juli 2009

BANJIR LAHAR; BENCANA ATAU BERKAH?

Banjir lahar dingin merupakan suatu peristiwa alam yang disebabkan oleh jenuhnya endapan-endapan vulkanik hasil dari erupsi gunung api oleh air hujan sehingga membentuk aliran debris menuruni lereng hingga jauh ke dataran rendah. Apabila sepanjang alur sungai tidak dilakukan penanganan terhadap penanggulangan banjir lahar seperti dibangunnya sabo dam dan bangunan pendukungnya maka aliran lahar dingin dapat mengakibatkan bencana alam dengan tingkat kerusakan yang sangat tinggi terhadap badan sungai, bangunan-bangunan disekitar sungai dan dataran rendah di daerah hilir sungai. Bahkan dalam banyak kasus peristiwa banjir lahar yang tidak terprediksi dapat menimbulkan korban jiwa yang cukup besar.



MANAJEMEN PENAMBANGAN PASIR

Pasca banjir lahar maka terjadilah penimbunan material pasir dan batuan vulkanik di sepanjang alur sungai. Meskipun pada awal kedatangannya cenderung merusak tapi di sisi lain kedatangan material tersebut sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat disekitar daerah aliran sungai sebagai sebuah berkah dimana kegiatan penambangan pasir maupun batu dapat dilakukan.

Dengan dimulainya penambangan pasir dan batu di sekitar sungai oleh masyarakat sekitar daerah aliran sungai maka diperlukan adanya pengaturan-pengaturan penambangan sehingga tidak menimbulkan masalah-masalah yang tidak diinginkan seperti perebutan area penambangan, masalah perijinan dan masalah kerusakan lingkungan.

Perlunya aturan penambangan

Dalam kegiatan penambangan pasir dan batu maka secara langsung maupun tidak langsung akan terjadi interaksi antara 3 (tiga) komponen masyarakat yaitu masyarakat sekitar area tambang, pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang usaha pertambangan pasir.

Ketiga komponen diatas harus saling bekerjasama untuk membentuk system penambangan yang saling menguntungkan. Masyarakat memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mengelola dan membuat tata cara penambangan dengan membentuk aturan resmi atau peraturan daerah dan disisi lain pemerintah daerah berkewajiban memberikan pengayoman/ perlindungan.

Hubungan antara pemerintah daerah dengan organisasi kemasyarakatan yaitu pemerintah daerah mengadakan perijinan resmi kepada organisasi kemasyarakatan untuk melakukan penambangan dengan aturan tertentu sedangkan organisasi kemasyarakatan berkewajiban membayar pajak serta menjaga kelestarian lingkungan dengan mengikuti aturan penambangan yang berwawasan lingkungan.

Hubungan antara organisasi kemasyarakatan (penambang) dengan masyarakat sekitar yaitu penambang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi pekerja tambang dan sebagai timbal baliknya ada tarif atau biaya yang harus dibayar penambang kepada masyarakat.

Apabila ketiga hubungan tersebut dapat berjalan harmonis dan mengikuti aturan penambangan yang telah ditetapkan maka kegiatan penambangan pasir dan batu akan dapat saling menguntungkan semua pihak dan juga lingkungan.


Permasalahan yang timbul seputar penambangan pasir

Meskipun secara teori ketiga hubungan antara masyarakat, pemerintah daerah dan penambang bisa berjalan harmonis tapi dalam praktek di lapangan hal tersebut bisa menjadi sangat rumit dan rawan masalah.

Masalah yang sering timbul adalah masih ada penambang liar yang tidak memiliki ijin, pelanggaran aturan penambangan, kurang tegasnya sanksi yang diberikan bagi pelanggar, kerusakan lingkungan dan bangunan penahan aliran sedimen akibat penambangan yang menyalahi aturan, penyelewengan pembayaran pajak dll.

Untuk mengatasi masalah di atas tidak selalu mudah karena biasanya kondisi tersebut menjadi komplek dan ada konflik-konflik kepentingan dari ketiga komponen masyarakat. Di dalam masyarakat biasanya masih kurang adanya kesadaran terhadap kelangsungan pelestarian lingkungan disekitar tambang termasuk lahan perladangan dan permukiman mereka sehingga kegiatan penambangan pada area milik warga tersebut justru berujung pada kerusakan lingkungan karena tidak adanya batas penambangan pasir yang baku yang ditetapkan sehingga penambang semaunya sendiri melakukan kegiatan penambangan.

Masalah selanjutnya adalah masih saja ada penambang liar yang tidak memiliki ijin. Dan juga penambang berijin tapi aktifitas penambangannya melanggar aturan. Misalnya mereka melakukan penambangan di sekitar pondasi bangunan sabo sehingga mengganggu kestabilan bangunan. Pengeprasan lereng dan penggalian kebawah yang melanggar batas kedalaman sehingga menurunkan muka air tanah. Pada kasus ini dibutuhkan tindakan atau sanksi tegas oleh aparat keamanan, masyarakat sendiri maupun pemerintah daerah berupa penghentian kegiatan penambangan liar dan pencabutan ijin penambangan.

Masalah yang paling sering diabaikan adalah kerusakan lingkungan. Apabila aturan penambangan yang sudah ditetapkan tidak dilaksanakan dengan baik maka lingkungan akan menjadi korbannya. Bangunan pengendali aliran sedimen tidak sesuai lagi dengan fungsinya, dasar sungai mengalami degradasi yang menyebabkan penurunan muka air tanah, tebing sungai rawan longsor yang berakibat pada berkurangya lahan perladangan dan permukiman warga, tanah menjadi kekurangan air, tanaman mati, ternak kelaparan dan akhirnya terancamnya ekosistem dan eksistensi kehidupan disekitar daerah penambangan.

Apabila kerusakan lingkungan sudah mengancam eksistensi kehidupan maka akan timbul dampak lanjutan yaitu kelaparan dan konflik social di mana masing-masing komponen masyarakat akan saling menyalahkan dan merasa tidak bertanggung jawab.

Maka untuk menghindari atau setidaknya meminimalkan bahaya kerusakan lingkungan yang belakangan ini sudah terjadi di areal penambangan pasir maka perlu dilakukan langkah-langkah persuasif maupun sanksi tegas oleh penegak hokum. Dan yang tak kalah penting adalah meningkatkan kesadaran ketiga komponen masyarakat untuk bersama melakukan aktifitas penambangan pasir dan batu yang berwawasan lingkungan.

Lanjut baca ya.......

Selasa, 26 Mei 2009

Pengaruh musim hujan panjang


Saat ini di beberapa daerah sedang dihadapkan pada musim hujan yang panjang. Apabila kita melihat siklus musim di daerah tropis khususnya Indonesia, dalam kondisi normal musim hujan jatuh pada bulan Oktober - April dan musim kemarau terjadi pada bulan April - Oktober.

Pada bulan April terjadi pergantian musim dari musim hujan menuju musim kemarau. Pergantian ini ditandai dengan pola rentang hari tidak hujan yang semakin panjang, angin berhembus lebih kencang. Sedang pada bulan Oktober adalah sebaliknya.

Siklus tersebut bisa saja bergeser satu atau bahkan dua bulan sehingga jumlah bulan pada musim hujan atau musim kemarau menjadi lebih panjang atau pendek.


Sekarang kita telah menginjak bulan Mei akhir dan karena masih seringnya terjadi hujan yang cukup deras maka masih belum bisa dipastikan apakah musim hujan akan segera berakhir. Memang beberapa daerah di Indonesia sudah ada yang memasuki musim kemarau. Lalu apakah dampak bagi daerah yang mengalami musim hujan lebih panjang?

Bisa berdampak positif dan negatif
Dampak positif :
  • bagi daerah yang sering mengalami kekeringan maka dengan adanya musim hujan yang lebih panjang persediaan air menjadi lebih banyak dan masa tanam bagi kebun lebih panjang. Suplai air di daerah tangkapan air seperti waduk, embung dan danau akan lebih banyak sebagai persediaan untuk pertanian dan air minum di musim kemarau.

Dampak negatif:
  • Bagi daerah perkotaan, bahaya banjir masih terus mengancam, karena pada masa-masa seperti sekarang ini justru siklus hujan lebih sulit untuk diprediksi. Kadang hujan lebat datang secara mendadak dalam durasi yang pendek tapi berakibat rawan banjir.
  • Bagi daerah pertanian seperti persawahan yang mempunyai siklus tanam padi 3 (tiga) bulanan, maka pada akhir Mei sampai pertengahan Juni akan memasuki masa panen kedua. Apabila masih terjadi hujan maka musim panen akan banyak menghadapi masalah, seperti tanah persawahan yang masih basah bahkan ada yang masih tergenang air, penjemuran padi yang sulit dilakukan di tempat terbuka karena hujan cenderung tidak bisa diprediksi. Untuk daerah persawahan yang rawan genangan air akibat luapan sungai juga terancam gagal panen, karena dengan adanya hujan lebat bisa memicu banjir dan sungai meluap menggenangi areal persawahan. Padi akan menjadi rusak sebelum dipanen.
  • Dari segi kesehatan pergantian musim yang mengalami pergeseran memicu adaptasi fisik terhadap musim juga bergeser. Karena pada dasarnya perpanjangan musim hujan ini bukanlah musim hujan yang sesungguhnya atau dengan kata lain pergantian musim yang lebih panjang dari biasanya maka memaksa tubuh kita untuk beradaptasi terhadap perubahan ekstrim cuaca dan bisa menimbulkan penurunan daya tahan tubuh yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.

Jadi pada akhirnya dengan adanya pergantian musim yang lebih panjang kali ini maka kita perlu melakukan tindakan pencegahan dini terhadap kemungkinan dampak negatif yang bisa menimpa kita dan lingkungan di sekitar kita.

Yang terakhir apabila ternyata kondisi alam yang seperti ini sampai menimbulkan kerugian fisik dan materi bukankah ini bisa dikategorikan sebagai bencana alam.
Lanjut baca ya.......

Rabu, 13 Mei 2009

Sungai masa kecilku

Minggu yang lalu aku punya kesempatan libur 1 minggu dan mengunjungi kampung halamanku. Menyusuri kampung2 di lereng gunung Wilis dengan udara yang sejuk, serasa kembali ke masa kecilku dulu, tiap hari bermain di terasering sawah, berlarian main layangan lalu mandi di sungai yang jernih dengan batu-batu hitamnya yang besar.

Setelah mampir ke rumah orang tua lalu aku melihat-lihat sungai yang penuh kenangan tersebut. Jauh juga sih, sekitar 1 km dari rumah. Dulu jarak segitu tak terasa karena banyak temannya. Sepeda motor ku parkir di tepi jembatan lalu aku menuruni tebing menuju sungai.
Namun aku kecewa, karena bayanganku akan keindahan dan kejernihan sungai itu hilang sudah. Air yang dulu selalu mengalir jernih sekarang menjadi keruh dan kotor oleh plastik-plastik. Dulu kami sering ningkring diatas batu yang ukurannya sebesar truk ditengah sungai sambil sesekali memperhatikan udang-udang berlarian di balik batu. Sekarang batu-batu itu penuh lumut dan sampah yang tersangkut. Sedih rasanya melihat kenyataan berlalu hampir 20 tahun dan semuanya berubah. Bukan membaik tapi malah memburuk.

Akupun kembali naik ke jembatan dan berusaha melupakan kenangan indah itu. Setelah mengambil foto sekenannya akupun meluncur ketempat lain dimana aku pernah melalui masa kanak-kanakku, ya ke persawahan sambil menikmati indahnya gunung Wilis dari kejauhan.

Duduk diatas sepeda motor sambil merasakan hembusan angin, damaiiiii dan indaaah.

Namum ada rasa penasaran yang dulu sering terbersit dalam benakku saat mandi di sungai, mengapa batu-batu sebesar mobil itu bisa berada di sungai?, dari mana datangnya?Sekarang aku punya jawabannya.

Ada dua kemungkinan asal muasal batu-batu tersebut yaitu:

hasil dari aliran lahar letusan gunung Wilis, yang memang sesuai karakter aliran lahar bisa mengalir hingga puluhan kilometer menuruni lereng dan menuju hilir sungai. Itu artinya bahwa gunung Wilis entah tahun berapa merupakan gunung api aktif yang pernah meletus.

pada lereng gunung Wilis pernah terjadi longsoran skala besar dan material longsoran termasuk didalamnya batu-batu besar tersebut mengalir akibat jenuh oleh air hujan dan menjadi aliran debris.

Kedua kemungkinan di atas bisa diterima. Pada alternatif pertama, gunung Wilis memang dikategorikan sebagai tidur dan bukti adanya aktifitas magma masih terlihat seperti adanya sumber air panas, keluarnya gas panas dari dasar danau Ngebel (dilereng gunung Wilis) pada saat-saat tertentu yang membunuh ikan-ikan di dalamnya.
Artinya karena masih ada aktifitas magma aka ada kemungkinan entah kapan gunung Wilis bisa meletus lagi apabila aktifitas magma meningkat. Kondisi tersebut pernah terjadi pada gunung Pinatubo di Philipina.

Sedangkan alternatif kedua bila itu benar pasti longsor yang terjadi dalam skala amat besar sehingga material bisa mengalir hingga hampir 30 km dari gunung Wilis ke desaku dan di bawahnya.

Cuma dokumen maupun data peristiwa tersebut belum pernah saya ketahui dan ada atau tidak.
Lanjut baca ya.......

Selasa, 05 Mei 2009

Pilih Banjir atau Longsor dulu?















Indonesia dianugerahi oleh Tuhan kawasan pegunungan dengan hutan yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Hamparan hijau begitu indah dipandang. Apalagi jika musim hujan tiba, setiap sudut kosong tanah disekitar kita akan ditumbuhi rumput dan semak-semak yang begitu cepat berkembang. Gambaran keindahan itu masih jelas terlihat pada masa kecilku dulu sekitar tahun 1980 an.

Apakah gambaran itu masih ada hingga sekarang? Jika kita pergi ke daerah pedesaan mungkin masih, tapi akan sangat sulit menjumpai lagi di daerah perkotaan. Karena semakpun tak punya hak untuk hidup di sana, apalagi hutan.
Bagaimana dengan nasib pegunungan kita? Beberapa masih tampak alami dengan hutan tropis yang lebat. Namun sebagian besar mempunyai nasib yang sangat memprihatinkan. Gundul, gersang dan tak bertuan. Sedangkan gunung dengan hutan yang masih lebat pun banyak yang mengalami longsor. Hasil akhirnya juga sama yaitu kerusakan alam.
Mungkin uraian di atas bukan lagi sebuah isu yang perlu kita renungkan karena sudah ratusan bahkan ribuan kali kita dengar dan alami tanpa ada penyelesaian. Apakah masih ada sedikit kepedulian dari kita? Jika ya, mungkin uraian saya berikut ini bisa sedikit memberi gambaran mengapa hal itu bisa terjadi, dan mengapa bencana banjir dan tanah longsor terus melanda seakan tak pernah berhenti.

Fenomena Banjir
Kejadian banjir di sini saya hanya membahas asal muasal dari daerah hulu sungai dan tidak membahas tentang masalah di perkotaan yang tak kalah rumitnya.
Dalam siklus hidrologi dimana kondisi alam ideal, maka air hujan yang jatuh di daerah hulu sungai akan
terjadi tiga hal yaitu:

  • air akan langsung mengalir di permukaan tanah dan masuk ke sungai,
  • air akan tertahan oleh tumbuhan lalu sebagian meresap kedalam tanah dan sebagian ada yang mengalir di permukaan dan ada yang menguap kembali
  • air yang meresap ke dalam tanah menjadi aliran air tanah.

Bagaimana jika kondisi alam menjadi tidak ideal, misalnya tumbuhan menjadi sedikit?
  1. Aliran permukaan akan menjadi lebih besar, mengakibatkan erosi tanah yang akan mengalir bersama-sama menuju sungai. Terjadilah pendangkalan sungai.
  2. Air yang meresap kedalam tanah semakin sedikit karena tak ada tumbuhan sebagai penahan air hujan dan tanah mengalami erosi. Maka persediaan air tanah semakin menipis.
  3. Apabila curah hujan sangat tinggi maka aliran permukaan bersama-sama sedimen akan mengalir deras menuju hilir sungai dan meluap di daerah sekitarnya. Terjadilah banjir.
Jadi secara garis besar salah satu penyebab terjadinya banjir di daerah dataran rendah baik itu perkotaan maupun dataran rendah lain adalah adanya penggundulan hutan di daerah hulu sungai. Penyebab lainnya adalah buruknya sistem drainase, berkurangnya daerah resapan air karena adanya permukiman dan lain-lainnya.


Fenomena Longsor
Seperti telah saya singgung pada definisi longsor dan gerakan tanah pada postingan terdahulu, ada beberapa faktor pemicu terjadinya longsor. Apabila kita berbicara masalah longsor maka perhatian kita adalah pada kondisi lereng. Apakah lereng yang gundul menyebabkan longsor? Bagaimana dengan lereng dengan vegetasi yang lebat? Jawabannya adalah longsor tidak ada hubungan langsung dengan vegetasi diatasnya, baik gundul maupun lebat.
Penyebab utama terjadinya longsoran adalah terganggunya kestabilan lereng. Gangguan tersebut bisa secara alami maupun akibat ulah manusia.
Penyebab alami adalah:
  1. peningkatan ketebalan lapisan tanah akibat pelapukan batuan di bawah lapisan tanah akibat adanya aktifitas gunung api. Begini penjelasannya: Pada mulanya lereng mempunyai lapisan tanah yang tipis (ideal) sehingga lereng stabil meskipun ditumbuhi vegetasi yang lebat. Karena adanya aktifitas magma di dalam perut bumi, maka panas yang dihasilkan merambat kelapisan batuan disekitarnya dan terjadinya pelapukan pada lapisan batuan yang paling luar, menjadi tanah dan akhirnya lereng menjadi tidak stabil karena lapisan tanah akan membebani lereng dan cenderung akan longsor meskipun permukaannya berupa hutan.
  2. gempa bumi
  3. Arus sungai yang sangat deras pada saat hujan, mengakibatkan tebing sungai yang merupakan kaki lereng menjadi tergerus.
  4. resapan air hujan pada lereng dan tertahan oleh lapisan batuan kedap air di bawah lapisan tanah pada lereng sehingga tanah menjadi tidak stabil karena jenuh air.
Sedangkan penyebab karena aktifitas manusia adalah:
  1. Pembebanan lereng karena pembangunan pemukiman dan bangunan lainnya
  2. pemotongan kaki lereng untuk pembangunan rumah, jalan dan bangunan lain tanpa melakukan perkuatan tebing pasca pemotongan. Misalnya dengan dinding penahan tanah, turap, dll
  3. penambangan liar material di dasar sungai yang merupakan kaki lereng. Dengan penurunan elevasi dasar sungai maka lereng menjadi tidak stabil. Dan longsor.
Mungkin masih banyak penyebab lain yang belum saya sebutkan.

Menjaga bukit atau hutan?
Selain faktor alam sebagai penyebab banjir dan longsor yang memang tidak bisa dihindari, maka ada beberapa dilema yang terjadi dalam usaha menyelamatkan kawasan perbukitan dan hutan di daerah hulu.
Untuk menghindari banjir maka syaratnya daerah resapan air harus sebanyak-banyaknya. Dengan hutan yang lebat maka usaha penanggulangan banjir sangat mungkin dilakukan. Namun pada lereng yang tidak stabil maka keberadaan hutan dengan daya resap tinggi justru merupakan bencana karena rentan terhadap longsor.
Jadi kita harus mengetahui titik rawan suatu kawasan dan memberikan prioritas tindakan yaitu menyelamatkan bukit atau hutan. Mencegah longsor atau banjir.
Cara paling mudah yaitu membiarkan alam seperti apa adanya tanpa mengusiknya. Tapi itu nyaris tidak mungkin, toh kenyataanya kondisi alam kita sudah begitu menyedihkan.
Jadi menurut pembaca semua sejauh yang bisa kita lakukan, apa kira-kira tindakan kita untuk mengurangi faktor pemicu terjadinya banjir dan longsor di negeri kita tercinta ini, sehingga bencana akan berkurang di masa yang akan datang?
Lanjut baca ya.......

Minggu, 26 April 2009

Knowing - film tentang kiamat?


Nonton film "knowing" setelah seminggu menjalani ujian akhir trimester II merupakan moment yang tepat. Meskipun semuanya tak direncanakan. Aku hanya berpikir, pokoknya jumat sehabis ujian langsung nonton apapun filmnya. Eh, ternyata ada film yang ceritanya merupakan jenis film favoritku. Belum nonton sudah seneng duluan.


Langsung ke filmnya aja, ya...
Garis besar ceritanya adalah begini. Pada tahun 1959 disebuah SD di Massachusetts dilakukan penguburan kapsul waktu yang didalamnya berisi amplop yang memuat gambar tentang bayangan 50 tahun ke depan dari murid SD tersebut. Namun Lucinda Embry yang merupakan murid paling menyedihkan kondisinya, mendengar suara-suara aneh sepanjang hari itu dan menuliskannya ke dalam kertas yang ternyata berisi angka-angka acak yang aneh.


Singkat cerita pada tahun 2009, saatnya untuk membuka kapsul waktu dan murid-murid SD tersebut (masa kini) berebut untuk mendapatkan satu amplop. Dan Caleb anak dari profesor John Koestler yang kebagian amplop dari Lucinda yang berisi tulisan tersebut.

Secara kebetulan juga John mencurigai tulisan acak tersebut dan menulis ulang di white board dan berkat batuan google, ia menemukan misteri angka-angka itu yang merupakan rangkaian dari tanggal kejadian bencana, jumlah korban dan lokasi bencana yang merupakan letak astronomis berupa garis lintang dan bujurnya.

Semua kejadian bencana itu sudah terjadi dalam masa lima puluh tahun tersebut hanya tinggal 3 bencana yang salah satunya adalah badai matahari yang akan menghancurkan separuh permukaan bumi yang pada saat kejadian langsung berhadapan dengan matahari.

Pesan tentang ketidakberdayaan
Seberapapun usaha John untuk mengantisipasi 3 bencana tersisa, ia tak bisa melawan takdir dan peristiwa itu tetap terjadi dengan korban yang sama persis denga yang dituliskan. Hingga akhir cerita bahwa "kiamat" itu benar-benar terjadi membakar seluruh permukaan bumi dan hanya orang-orang yang terpilih saja yang diselamatkan dan akan menjalani kehidupan dari awal lagi.

Siapa orang yang terpilih itu?

Meskipun pada awalnya film ini terkesan absurb dan dipas-paskan tapi pesannya jelas sekali bahwa kita tak bisa melawan takdir. Kita hanya diberi peringatan dan yang meyakinilah yang akan lebih pasrah menjalaninya.

Tidak seperti film-film hollywood sebelumnya tentang bencana, contohnya Armagedon (1999), Volcano, Dante's Peak dll yang berakhir tentang keperkasaan Amerika dalam menaklukkan alam dan merupakan sebuah kemenangan, di film ini diperlihatkan bagaimana ketidak berdayaan negeri adi daya tersebut.

Kondisi cerita seperti ini tentu akan menimbulkan gejolak berbeda bagi orang yang tidak percaya bahkan menyepelekan Tuhan dibandingkan dengan orang yang percaya. Jadi semuanya tergantung kita bagaimana menyikapi tentang sebuah peristiwa alam.

Kembali ke "selera asal....."
Karena tipe film seperti ini merupakan film favoritku jadi dengan semangat kutulis disini dan tetap jadi renungan dengan mengambil segala sisi positif.
So....inilah awal liburan akhir semesterku yang menyenangkan. Bagi yang belum nonton...apakah Anda tertarik? Dan yang sudah nonton, bagaimana pendapat Anda?
*******$$$$$*******
Judul film: Knowing
Pemain: Nicholas Cage, Rose Byrne, Chandler Canterbury, Lara Robinson, Ben Mendelsohn
Sutradara: Alex Proyas

Lanjut baca ya.......