Minggu, 26 April 2009

Knowing - film tentang kiamat?


Nonton film "knowing" setelah seminggu menjalani ujian akhir trimester II merupakan moment yang tepat. Meskipun semuanya tak direncanakan. Aku hanya berpikir, pokoknya jumat sehabis ujian langsung nonton apapun filmnya. Eh, ternyata ada film yang ceritanya merupakan jenis film favoritku. Belum nonton sudah seneng duluan.


Langsung ke filmnya aja, ya...
Garis besar ceritanya adalah begini. Pada tahun 1959 disebuah SD di Massachusetts dilakukan penguburan kapsul waktu yang didalamnya berisi amplop yang memuat gambar tentang bayangan 50 tahun ke depan dari murid SD tersebut. Namun Lucinda Embry yang merupakan murid paling menyedihkan kondisinya, mendengar suara-suara aneh sepanjang hari itu dan menuliskannya ke dalam kertas yang ternyata berisi angka-angka acak yang aneh.


Singkat cerita pada tahun 2009, saatnya untuk membuka kapsul waktu dan murid-murid SD tersebut (masa kini) berebut untuk mendapatkan satu amplop. Dan Caleb anak dari profesor John Koestler yang kebagian amplop dari Lucinda yang berisi tulisan tersebut.

Secara kebetulan juga John mencurigai tulisan acak tersebut dan menulis ulang di white board dan berkat batuan google, ia menemukan misteri angka-angka itu yang merupakan rangkaian dari tanggal kejadian bencana, jumlah korban dan lokasi bencana yang merupakan letak astronomis berupa garis lintang dan bujurnya.

Semua kejadian bencana itu sudah terjadi dalam masa lima puluh tahun tersebut hanya tinggal 3 bencana yang salah satunya adalah badai matahari yang akan menghancurkan separuh permukaan bumi yang pada saat kejadian langsung berhadapan dengan matahari.

Pesan tentang ketidakberdayaan
Seberapapun usaha John untuk mengantisipasi 3 bencana tersisa, ia tak bisa melawan takdir dan peristiwa itu tetap terjadi dengan korban yang sama persis denga yang dituliskan. Hingga akhir cerita bahwa "kiamat" itu benar-benar terjadi membakar seluruh permukaan bumi dan hanya orang-orang yang terpilih saja yang diselamatkan dan akan menjalani kehidupan dari awal lagi.

Siapa orang yang terpilih itu?

Meskipun pada awalnya film ini terkesan absurb dan dipas-paskan tapi pesannya jelas sekali bahwa kita tak bisa melawan takdir. Kita hanya diberi peringatan dan yang meyakinilah yang akan lebih pasrah menjalaninya.

Tidak seperti film-film hollywood sebelumnya tentang bencana, contohnya Armagedon (1999), Volcano, Dante's Peak dll yang berakhir tentang keperkasaan Amerika dalam menaklukkan alam dan merupakan sebuah kemenangan, di film ini diperlihatkan bagaimana ketidak berdayaan negeri adi daya tersebut.

Kondisi cerita seperti ini tentu akan menimbulkan gejolak berbeda bagi orang yang tidak percaya bahkan menyepelekan Tuhan dibandingkan dengan orang yang percaya. Jadi semuanya tergantung kita bagaimana menyikapi tentang sebuah peristiwa alam.

Kembali ke "selera asal....."
Karena tipe film seperti ini merupakan film favoritku jadi dengan semangat kutulis disini dan tetap jadi renungan dengan mengambil segala sisi positif.
So....inilah awal liburan akhir semesterku yang menyenangkan. Bagi yang belum nonton...apakah Anda tertarik? Dan yang sudah nonton, bagaimana pendapat Anda?
*******$$$$$*******
Judul film: Knowing
Pemain: Nicholas Cage, Rose Byrne, Chandler Canterbury, Lara Robinson, Ben Mendelsohn
Sutradara: Alex Proyas

Lanjut baca ya.......

Jumat, 10 April 2009

Magma, Lava dan Lahar

Magma adalah suatu material yang terbentuk di dalam lapisan kulit bumi (lempeng tektonik) berupa material lumpur yang berpijar pada suhu sangat tinggi (sampai dengan 1000 derajat Celcius). Terjadi akibat adanya gesekan/ tumbukan dua lempeng tektonik, sehingga menghasilkan suhu tinggi dan membentuk dapur magma yang mendorong keatas dan dapat memunculkan adanya gunung api.
Berikut ini adalah gambar proses terbentuknya magma dan gunung api.
Lava adalah magma yang keluar dari perut bumi/ gunung api akibat adanya peningkatan aktifitas vulkanik di dalam gunung api. Lava keluar dapat berupa leleran yang mengalir menuruni lereng gunung hingga tempat yang jauh di lembah, magma bisa juga keluar dan berdiam disekitar puncak gunung api dan membentuk kubah lava (dome) sehingga gunung api tersebut kelihatan lebih tinggi (contoh pada gunung Merapi di Jawa tengah).

Lahar adalah lava yang tercampur dengan air (baik air hujan ataupun lainnya seperti danau di sekitar gunung) sehingga menjadi jenuh dan membentuk aliran yang meluncur dengan kecepatan tinggi menuruni lereng hingga jarak puluhan kilometer. Apabila lava yang tercampur air masih panas atau baru keluar dari dapur magma pasca erupsi maka menghasilkan lahar panas. Sebaliknya apabila lava sudah tertimbun lama dilereng gunung setelah erupsi lalu tercampur air pada musim hujan maka akan menghasilkan aliran lahar dingin. Kedua type lahar di atas mempunyai resiko yang sama besar pada bencana pasca erupsi gunung api yang banyak menimbulkan korban jiwa.





Lanjut baca ya.......

Minggu, 05 April 2009

Selamat Datang di Mega Mall Bencana

Selama 5 hari sejak tanggal 31 Maret sampai 4 April 2009 saya dan teman sekelas di Magister Pengelolaan Bencana Alam UGM plus peserta dari luar mengikuti pelatihan tentang Standard Sistem Management Keadaan Darurat (SSMKD) dimana didalamnya terdapat Sistem Komando Pengendalian Lapangan (SKPL). Sebenarnya sistem ini awalnya adalah dilatihkan untuk personil Polri yang diadobsi dari sistem yang dipakai di Amerika. Lalu dijadikan standart management penanggulangan bencana internasional.

Instruktur dalam pelatihan ini adalah dua orang Amerika dari ICITAP (International Criminal Investigative Training Assistence Program) yang mantan FBI dan dari Polri. Dalam pelatihan disamping penjelasan berbagai modul juga ada beberapa simulasi dalam menghadapi bencana alam di Indonesia. Karena kapasitas kami yang kebanyakan dari PNS dinas Pekerjaan Umum jadi simulasi penanganan bencana diarahkan kepada peran utama PU dan kerja sama dengan polisi, PMK, dinas sosial, LSM dan unsur masyarakat yang lain.

Pada simulasi akhir kami merasakan bagaimana suasana yang dibangun dari simulasi begitu komplek dan dalam kepanikan seolah terjadi bencana betulan, kami dalam struktur organisasi Komando Pengendalian Lapangan (KPL) harus memutuskan strategi penyelamatan korban, evakuasi, keamanan daerah bencana, menyalurkan sumber daya berupa alat berat dll, bahan makanan, membentuk Pos Pangkalan, menghitung jumlah korban, memanage sirkulasi bantuan baik makanan dan medis, memberikan informasi ke publik sekaligus menampung perkembangan terakhir situasi bencana. Dalam tanggung jawab yang begitu besar, tuntutan keputusan dan strategi harus segera dilaksanakan sementara perkembangan kondisi bencana semakin memburuk.

Bisa saja ditengah kami melakukan langkah strategi A, ditengah jalan harus diganti dengan strategi B karena kondisi lapangan telah berubah. Sementara bantuan peralatan dan bahan obat-obatan belum datang karena jalan terputus akibat bencana. Beberapa personil mulai
frustasi tak tahu harus berbuat apa, sementara penyusup bisa saja berdatangan baik dari pihak tak berkepentingan, media maupun masyarakat yang hanya sekedar menonton karena bisa saja mereka menjadi bagian dari korban berikutnya.

Oke...ini hanya simulasi. Karena begitu semua peserta sudah tampak kacau maka simulasi dihentikan. Dan pada sesi berikutnya dilakukan tanya jawab tentang perasaan masing-masing personil selama simulasi. Jawabnya bervariasi, ada yang bingung, stress dan lain-lain.
Kami jadi berpikir, simulasi saja demikian rumit padahal kondisi sesungguhnya dilokasi bencana bisa sepuluh kali lebih komplek.

Dalam salah satu sesi pelatihan, instruktur menjelaskan bahwa di dunia ini yang memiliki resiko bencana alam paling besar adalah Asia, dikatakan sebagai mall nya bencana sedangkan Indonesia adalah mega mall nya bencana. Luar biasa.....!!!

Mengapa bisa begitu ekstrim sebagai mega mallnya bencana?
Dari mata kuliah yang kami ikuti dijelaskan bahwa kepulauan di Indonesia merupakan pertemuan dari tiga lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi yaitu lempeng Asia yang diam, lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dan lempeng Pasifik yang juga bergeser ke utara dan barat laut.

Dari pertemuan tersebut maka terjadi penunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Asia yaitu sepanjang pantai Samudera Hindia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga Maluku. Dan dari penunjaman tersebut maka timbullah gesekan lempeng. Reaksi gesekan tersebut adalah terjadinya gempa tektonik dan pembentukan magma dibawah kerak bumi yang menimbulkan munculnya banyak gunung api disepanjang pulau-pulau tersebut.

Ya...begitulah, ini hanya sekelumit peristiwa global yang perlu kita sadari disamping masih banyak gejala-gejala alam lain yang sangat mungkin menimbulkan bencana, yaitu akibat ulah manusia yang selalu berbuat kerusakan dan tak pernah akur dengan alam.

Kalau gempa tektonik dan gunung meletus murni karena gejala alam maka akibat ulah manusia maka terjadilah longsor, banjir, kebakaran hutan, kebakaran perkampungan/pasar, pengeboman, keruntuhan gedung/bendungan dan masih banyak lagi.

Selama peristiwa-peristiwa diatas tidak menimbulkan korban jiwa dan kerugian material maka dianggap sebagai fenomena alam jika sebaliknya maka itulah bencana yang sesungguhnya.
#########

Keterangan gambar:
Gambar 1: para instruktur dan penerjemah pada sesi tanya jawab setelah simulasi akhir
Gambar 2: titik-titik gempa tektonik didunia, disitu terlihat lokasi gempa merupakan batas lempeng tektonik dan Indonesia berada di titik pertemuan tiga lempeng tektonik (sumber: Mac Graw-Hill Companies Inc - bahan kuliah MPBA)

Lanjut baca ya.......